Antara Tugas Negara dan Pengorbanan


 Sebagai aparat negara tentu saja kita pasti tahu apa itu tugas negara. Tugas negara kelihatannya cuma 2 kata yang singkat dan padat, tetapi kalau kita telaah lebih dalam maka makna yang terkandung didalamnya sangatlah luas dan kompleks. Kata tugas mempunyai arti yang dalam yang berkaitan dengan sebagian hidup kita. Tugas adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Negara berarti Organisasi yang sangat besar dimana didalamnya terdapat organisasi yang lebih kecil dan anggota yang merupakan rakyat semuanya.

   Bagi kita aparat negara tentu saja sudah sangat mengenal apa itu tugas negara. Tugas negara kita dapat dari pemerintah pusat yang merupakan pengelola negara. Dari pemerintah pusat turun terus ke organisasi tempat bernaungnya diri kita. Kalau hal ini dijabarkan satu  persatu maka akan menghabiskan waktu yang bertele-tele. Singkat kata, tugas dari atasan kitalah yang merupakan penjabaran terakhir dari tugas negara tersebut. Apakah hanya aparat negara yang harus melaksanakan tugas negara ini?

  Inilah situasi dan kondisi yang sering kita pikirkan,apa memang cuma aparat negara yang mempunyai kewajiban ini? Tidak. Karena kita semua adalah bagian dari negara. Oleh karena itu setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama dalam kewajiban ini. Hanya dengan porsi dan kegiatan yang berbeda sesuai dengan profesi dan kemampuan yang dimiliki. Kita tidak menyadari kewajiban kita kepada negara ini. Bahkan hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari bisa merupakan bagian dari tugas negara ini. Kita ambil contoh seorang pedagang sayur. Setiap pagi dia berjualan dipasar, apa yang bisa dia lakukan dengan profesinya itu? Banyak hal yang bisa dia lakukan,bahkan tanpa dia sadari. Pada saat dipasar, dengan membayar restribusi pasar maka dia ikut serta dalam menunaikan kewajiban kepada negara, kemudian sayur yang dia jual yang masih segar merupakan makanan yang sehat akan memberikan kesehatan bagi masyarakat yang membeli. Selain itu, selama dalam perjalanan baik berangkat maupun pulang dari pasar, berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku maka sudah merupakan bagian dari kewajiban kepada negara.

  Sepenggal kisah tersebut hanyalah gambaran dari rakyat paling kecil. Bagaiman dengan para pejabat negara? Yang merupakan aparat negara. Tugas mereka sudah jelas dan terinci dalam aturan-aturan negara. Sehingga seharusnya tidak ada lagi rasa mengeluh dalam menjalankan tugas negara tersebut. Memang tugas negara butuh pengorbanan. Hanya cara memandang kita terhadap pengorbanan yang kita lakukan inilah yang membuat nilai dari pengorbanan tersebut menjadi berbeda. Pada jaman perang kemerdekaan tentu saja akan lebih banyak pengorbanan jiwa dan material. Para pejuang dengan suka rela mengorbankan apa yang dia miliki demi bangsa dan negara. Mereka tidak memandang jenis pengorbanan apa yang bisa dia berikan. Betapa mulianya pengorbanan mereka. Bagaimana dengan kondisi sekarang? Sebaiknya mari kita tumbuhkan kesadaran kita masing-masing untuk mau berkorban demi negara. Tidak harus korban jiwa dan material, kita bisa contoh pedagang sayuran tadi. Berlakulah sebagai warga negara yang baik, taat kepada hukum dan aturan yang berlaku, bersikap jujur dan berpikirlah secara logis. Jangan lupa selalu taat beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Karena nilai-nilai agama bisa memberikan kepada kita untuk tidak lebih individualis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

About sundoroagung

nothing
This entry was posted in Thinking and idea. Bookmark the permalink.

4 Responses to Antara Tugas Negara dan Pengorbanan

  1. Komang Adi says:

    Pengorbanan para abdi negara saya takutkan kian hari kian tergerus oleh penatnya roda kehidupan.

    Saya sangat sepakat dengan Sundoro, bahwa pengorbanan bagi negara bukan hanya harus dilakukan oleh aparat negara. Seluruh anak bangsa harus meresapi serta mengamalkan semangat tersebut.

    Juga yang tidak kalah penting, negara sudah semestinya mau memberi perhatian lebih kepada individu-individu yang bersedia berkorban bagi negara.

  2. Agung NC says:

    Hmm…setuju…kita sama-sama makan menu yang sama…tapi kita harus optimis dan yakin kedepan pasti lebih baik

  3. Fritz Henry says:

    saya kira tidak pas untuk membandingkan pengorbanan seorang tukang sayur dengan pengorbanan aparatur negara sebab seorang tukang sayur berkorban lebih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga sedangkan aparatur negara (militer) berkorban kepada negara karena sudah terikat sumpah jabatan dan sapta marga. Mau lihat buktinya???? kalau suatu saat terjadi perang coba aja suruh tukang sayur angkat senjata ke medan perang mau gak dia??? tetapi militer ….. haruss….. kenapa ya kesejahteraan militer gak bisa ditingkatkan pemerintah?

  4. sundoroagung says:

    Memang betul mas..Cuma itu gambaran bahwa tukang sayurpun bisa memberikan pengabdiannya pada bangsa dan negara. Tidak harus aparatur negara saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s